#1 Aswin Melapor dari Suralaya

PERJALANAN HARI PERTAMA : Menginjakan Kaki di Tanah Banten

..sory ,telat melapor..

senin 14 Juni 2009, Team Suralaya (Aku, Ditto M, Heri S, Reza A) berangkat pagi buta jam 5.15. mata masih ngantuk, Muka masih kusam, ntah udah mandi apa belom (Ditto ketahuan belum mandi pas nyampe di mess-red). Semua perlengkapan uda dibawa dan yakin gak bakalan yang ada ketinggalan (tapi pastinya ada yang ketinggalan-red), dari pakaian, buku (semangat rajin membara-red) sampe barang-barang entertainment : Gitar, Monopoli, Ular Tangga, Catur, Kartu Remi (KP pa libura yak-red).
Seperti yang sudah direncanakan sore pada hari sebelum keberangkatan, perjalanan ke PLTU Suralaya ; yang terletak di Merak, akan di tempuh dengan rute Bandung-Bekasi-Jakarta-Merak. Masih di suasana yang semangat membara, berangkat dari basecamp (kosan ditto) menuju travel cipaganti yang terletak di Dipati Ukur. Nyampe di agent cipaganti pas banget dengan jadwal waktu keberangkatan (pukul 5.45), seperti biasa setor duit buat dapetin tiket travel. Pas transaksi sempet pengin marah campur kesel, penyebabnya cuman masalah tentang KTM. Sebelumnya pihak cipaganti yang sudah ditelpon pada malam harinya sebelum keberangakatan, ketika team suralaya booking kursi, mengatakan klo cukup bawa KTM aj dan nunjukin ke counter tiketnya tapi pas transaksi lain kata. Sempet terjadi perdepabatan yang sengit, pihak cipaganti meminta harus ada foto kopian KTM, coba ngasi solusi buat keluar bentar mo foto kopi tapi ditolak juga dengan alesan “uda saatnta berangakat, kasian yang nunggu di BTC” (padahal di BTC, kita masih nunggu 15 menit, hati berontak untuk komplain
menggebu-gebu-red) tapi mo bagaimana lagi kita terburu-buru mengejar waktu terpaksa mengalah. Pengin banget komplain langsung tapi takut ntar dibawa ke pengadilan hahaha..sepertinya kasus rumah sakit Omni (masuk bui dulu baru masuk TV-red). Gara-gara selembar foto kopian,gak jadi dapet potongan 10.000 (Saran buat temen2 : bawalah foto kopian KTM setiap saat karena cuman selembar foto kopian KTM berharga 10.000-red)
Perjalanan 2 jam menuju bekasi, kota persinggahan sementara. Satu jam pertama, hati ini yang tadinya panas pengin komplain terhapus dengan rasa ngantuk yang tak tertahankan (kebiasaan di kuliah, jam 7.00 waktu yang masih nyaman untuk melanjutkan mimpi-red). Namun setelah satu jam berikutnya tiba-tiba udara sekitar jadi gerah, ternyata travel kehabisan Freon. Rasa pengin komplian terbangkitkan kembali tapi teringat kembali saran Ditto (kasus komplain rumah sakit Omni) terpaksa diurungkan dengan bergerah ria didalam travel.
Travel nyampe di Metropolitan Mall bekasi jam 9.30.Sembari menunggu kiriman mobil ditto, maen Capsa satu sesi tepat di slasar depan pintu masuk MM. Walaupun ada satpam yang ngliatin, cuek-cuek aja toh juga gak kenal. Tak lama kemudian, mobil panther warna hijau datang juga. Ketemu dengan bokapnya Ditto, salam-salaman penuh basa-basi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Merak melewati beberapa pintu tol di Jakarta.Untuk menghilangkan rasa bosan di mobil, setiap lewat gerbang tol tak lupa menyapa sekalian menggoda penjaga tol yang cewek ( maklum, kami juga laki-laki biasa-red). Perjalanan sangat lama, panas, berdebu, jalan tidak rata (Jasa Marga gmana sih, Jalanan jangan ditembel donk, kaya ban aj-red) cuman ada SUTET di kiri kanan jalan.
Rasa lapar tak tertahankan, sesuai rencana, kita makan setelah keluar dari pintu tol Merak. Nyari-nyari liat kiri kanan yang ada cuman rumah makan padang (ini di Jawa ato di Sumatera-red). Iseng-iseng mampir di rumah makan Ayam goreng Bogor Ibu Kurnia. Sempet curiga dengan harga, Ditto nyolot menanyakan harga masing-masing menu, tapi gak dijawab pelayannya. Masing-masing memesan satu porsi ayam goreng, nasi dan minumnya es teh. Suguhan pertama 3 macem sambal : sambal merah, sambal ijo dan sambal kacang polong (tak tahu apa namanya-red) kemudian disusul dengan 4 potong ayam goreng, satu baki nasi, dan 4 es teh. Langsung makan dengan lahap tak menghiraukan berapa harga yangharus dibayar. Sambil makan, liat TV “eh, ada Manohara”, wah sinetron Indonesia teryata masih seperti itu juga, nggak berubah. Ngerasa perut udah kenyang, sambil ngobrol ngebahas lagi tujuan ke KP, sang pelayan dateng bawa seberkas bon makan. Sempet kaget, makan cuman segitu abis @ 18.000, dalam hati ”Wah kapok deh, bakal kita-kita inget lagi tempat ini”.
Melanjutkan kembali perjalanan menuju Suralaya dengan penampilan yang sudah rapi,kemeja dimasukkan dan bercelana bahan. Akhirnya nyampe di Area Pembangkit Suralaya pukul 11.55, di tahan dulu di pos satpam (dikira teroris-red) sambil diinterogasi maksud dan tujuan. Setelah melaui perbincangan yang cukup lama (3 menit),kami memutuskan untuk sholat dhuhur di masjid besar PLTU Suralaya karena jam itu merupakan jam istirahat.
Istirahat sejenak di masjid sambil menikmati suasana PANTAI dan juga ada mbak-mbak OJT yang sedang sholat di masjid itu juga. Setelah sholat jamaah, makan cemilan yang tersisa sambil mendiskusikan kembali maksud dan tujuan (menyamakan paradigm-red) dan meprediksikan kegiatan penerimaan hari pertama.
Kembali ke Area PLTU Suralaya, kembali berhadapan dengan satpam( kopassus dan polisi juga ada) menunjukkan surat Keterangan KP dan menyampaikan tujuan bertemu dengan humas, pak Endang. Sebelum masuk beberapa kali dilakukan pemeriksaan dan mengisi berkas kunjungan agar mendapatkan name tag tamu/pengunjung. Menuju ke ADB, pusat administrasi Suralaya, lapor pada mbak administrasi dan dipersilahkan untuk menunggu di lobby dikarenakan pak Endang sedang ada rapat. Detik-detik berganti dengan detik, menit pun silih berganti (pas nulis backsoundnya lagu dewa , pengeran cinta-red) menunggu memang membosankan. Berbagai posisi di coba untuk menghilangkan rasa capek dan bahaya kantuk sudah tak tertahankan walaupun sudah dicoba ditanggulangi dengan foto-foto bersama (narsisme kumat-red). 60 menit kita disini tanpa bicara dan aku benci harus menunggu dan menunggu (nada pelangi di matamu-red).

a Sekian lama menunggu, akhirnya disambut pak Cuttarya, Humas SDM, dan itu pun ditinggal lagi karena ada tamu. Menunggu dan menunggu …setelah beberapa menit pak Cuttarya datang kembali , menjemput dan mengajak kami ke kantornya. Sampai di kantornya, kita bertemu dengan segerombolan cewek yang mengenakan jas almamater yang tak lagi asing. Ternyata mereka ada lah 5 anak Teknik Lingkungan (1 cowok , 4 cewek), dalam hati “hahaha di sini ternyata gak cuman ‘bushing’ doank ”. Beliau memberikan sedikit penjelasan bla..bla.. tentang peraturan dan tata cara kegiatan PKL. PKL harus memakai Safety shoes (waduh diantara kita gak ada yang memakai safety shoes) dan PKL harus memakai jas Almamater (gleg, waduh pak kita-kita gak bawa nui). Walaupun ada beberapa persyaratan PKL yang belum lengkap , beliau dengan ringan tangan mau membantu untuk mengusahakan safety shoes. Setelah selesai, kita diajak pak Hawashi menunjukkan mess, tempat tinggal selama sebulan di Suralaya. Mess kita terletak di kompleks Mess IP Suralaya di jalan PLTA Sangguling no 6. Tak hanya itu kita juga diajak ke mess tempat anak TL yang terletak di dekat mess melati PLN (gak jauh dari mess kita heheheh….-red).
Ini dia mess kita..
Image036(1) Sampai di mess langsung beres-beres, ternyata di dalam mess sudah ditempati anak TI yang sudah menghuni sejak hari minggu kemaren. Duduk menunggu memang memberikan kontribusi yang besar pada rasa capek, setelah beres-beres langsung istirahat sejenak, agak jaim-jaiman dengan anak TI.
Tok-tok..tiba-tiba ada yang dateng mengetuk pintu dengan membawa sekresek besar warna merah. Hati bertanya-tanya ada apa ini. Ternyata orang tersebut adalah mas Amin, yang mengantarkan makan malam kita hohoo.. Alangkah senangnya dapat makan malam gratis. (dan dari sinilah kita mendapatkan jaminan makanan setiap hari )
Waduh sebenarnya masih ada cerita-cerita lain yang bisa dipamerkan,ini baru hari pertama lho…berhubung badan ud pegel …cukup disini dulu y
Bersambung….

#2 Aswin Melapor dari Suralaya..
foto diambil di site plan (hari ke-3)
DSCI0054(1)